Rabu, 06 Juni 2012

Penilaian Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Anak



BAB I

PENDAHULUAN



1.1.  Pendahuluan
Pertumbuhan berarti bertambah besar dalam aspek fisis akibat multiplikasi sel dan bertambahnya jumlah zat interseluler.oleh karena itu, pertumbuhan dapat diukur dalam sentimeter atau inch dandalam kilogram atau pound.
Perkembangan digunakan untuk menunjukan bertambahnya keterampilan dan fungsi yang kompleks.Seseorang berkembang dalam pengaturan neuromuskuler, berkembang dalam mempergunakan tangan kanannya dan terbentuk pula kepribadiannya.Maturasi dan diferensiasi sering dipergunakan sbagai sinonim untuk perkembangan.
Pertumbuhan ( growth) berkaitan dengan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik seseorang. Sedangkan perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan (skill) fungsi organ  atau individu. Kedua proses ini terjadi secara sinkron pada setiap individu.
Penilaian terhadap pertumbuhan seorang anak dapat dinilai melalui pertambahan berat dan tinggi badan dan  sampai anak berusia 2 tahun masih dapat digunakan penilaian melalui lingkar kepala yang biasanya dibandingkan dengan usia anak. Beberapa cara penilaian melalui  pemeriksaan fisik atau klinikal , pemeriksaan antropometri ( membandingkan tinggi badan terhadap umur, berat badan terhadap umur, lingkaran kepala terhadap umur, lingkar lengan atas terhadap umur ) , contohnya  KMS (kartu menuju sehat ) yang membandingkan berat badan terhadap umur , pemeriksaan radiologis, laboratorium, dan analisa diet.
Penilaian terhadap perkembangan seorang anak dapat di nilai melalui kemampuan fungsi organ seseorang dalam melakukan fungsi tubuhnya,seperti kemampuan dia bergerak,bernyanyi,berbicara dan berjalan.perkembangan pada anak dapat di di deteksi dengan cara : DDST(Denver Development Screening Test) dan KPSP (Kuesioner Pra Screening Perkembangan )

1.2.  Tujuan
1.2.1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui penilaian tumbuh kembang pada anak
1.2.2.      Tujuan Khusus
·         Untuk mengetahui tentang tumbuh kembang pada anak
·         Untuk melakukan penilaian tumbuh kembang pada anak
·         Untuk mengetahui masalah yang terjadi pada tumbuh kembang anak

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENILAIAN PERTUMBUHAN FISIK PADA ANAK
Dapat melakukan penilaian terhadap pertumbuhan anak, terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi tumbuh kembang anak, diantaranya dengan pengukuran antropometri, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi.
1.      Pengukuran antropometri
Pengukuran antropometri ini meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan (panjang badan), lingkar kepala dan lingkar lengan atas. Dalam pengukuran antropometri terdapat 2 cara dalam pengukuran, yaitu pengukuran berdasarkan usia dan pengukuran tidak berdasarkan usia.
Pengukuran berdasarkan usia misalnya berat badan berdasarkan usia, tinggi badan berdasarkan usia, dan lain-lain. Pengukuran tidak berdasarkan berdasarkan usia misalnya pengukuran berat badan berdasarkan tinggi badan, lingkar lengan atas berdasarkan tinggi badan, dan lain-lain.
a.       Pengukuran Berat Badan
Pengukuran berat badan digunakan untuk menilai paeningkatan atau penuruan semua jaringan yang ada pada tubuh, misalnya tulang, otot, lemak, organ tubuh dan cairan tubuh sehingga dapat diketahui status keadaan gizi atau tumbuh kembang anak. Selain menilai berdasarkan status gizi dan tumbuh kembang anak, berat badan juga dapat digunakan sebagai dasar perhitungan dosis dan makanan yang diperlukan dalam tindakan pengobatan. Adapun cara menentukan berat badan sebagaimana tampak pada gambar 3.1 – 3.2.
Penilaian berat badan berdasarkan usia menurut WHO dengan standar NCHS (National Center for Health Statistics) yaitu menggunakan presentil kurang atau sama dengan tiga termasuk kategori malnutrisi.
Penilaian berat badan berdasarkan tinggi badan menurut WHO yaitu menggunakan presentasi dari median sebagai berikut : antara 80 – 100% dikatakan malnutrisi sedang dan kurang dari 80% dikatakan malnutrisi akut (wasting).
Penilaian berat badan berdasarkan tinggi badan menurut standar baku NCHS yaitu menggunakan presentil sebagai berikut : persentil 72-25 dikatakan normal, persentil 10-5 dikatakan malnutrisi sedang, dan kurang dari persentil 5 dikatakan malnutrisi berat.
Selain penggunaan standar baku NCHS juga dapat digunakan Kartu Menuju Sehat(KMS). Sebagaimana penelitian Anwar (2003), dengan adanya KMS perkembangan anak dapat dipantau secara praktis, sederhana dan mudah.

b.      Pengukuran Tinggi Badan
Pengukuran ini digunakan untuk menilai status perbaikan gizi. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan sangat mudah dalam menilai gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Cara pengukuran dapat dilihat pada gambar 3.1-3.2.
Penilaian tinggi badan berdasarkan usia menurut WHO dengan standarr baku NCHS yaitu menggunakanpresentase dari median sebagai berikut : lebih dari atau sama dengan 90 % dikatakan normal, sedangkan kurang dari 90% dikatakan malnutrisi kronis (abnormal).
Gambar 3.1. Kurva pertumbuhan fisik anak laki-laki usia 0-36 bulan menurut presentil NCHS
Gambar 3.2. Kurva pertumbuhan fisik anak perempuan usia 0-36 bulan menurut presentil NCHS

c.       Pengukuran Lingkar Kepala
Pengukuran lingkar kepala ini digunakan sebagai salah satu parameter untuk menilai pertumbuhan otak. Dengan penilaian ini, dapat dideteksi secara dini apabila terjadi pertumbuhan otak mengecil yang abnormal (mikrosefali) yang dapat mengakibatkan adanya retardasi mental atau pertumbuhan otak membesar yang abnormal (volume kepala meningkat) yang dapat disebabkan oleh penyumbatan pada aliran cairan serebrospinalis. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan kurva lingkar kepala sebagaimana tampak pada gambar 3.3.
Gambar 3.3. Grafik lingkar kepala anak perempuan

Gambar 3.3. Grafik lingkar kepala anak laki-laki

d.      Pengukuran Lingkar Lengan Atas
Penilaian ini digunakan untuk menilai jaringan lemak dan otot, namun penilaian ini tidak banyak berpengaruh pada keadaan jaringan tubuh apabila di bandingkan dengan berat badan.

2.      Pemeriksaan Fisik
Penilaian terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dapat juga ditentukan dengan melakukan pemeriksaan fisik; melihat bentuk tubuh; membandingkan bagian tubuh dan anggota gerak lainnya; menentukan jaringan otot dengan memeriksa lengan atas, bokong dan paha; menentukan jaringan lemak; melakukan pemeriksaan pada trisep; serta menentukan pemeriksaan rambut dan gigi.

3.      Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan ini dilakukan guna meliai keadaan pertumbuhan dan perkembangan anak yang berkaitan dengan keberadaan penyakit. Adapun pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan kadar hemoglobin, pemeriksaan serum protein (albumin dan globulin), hormonal, dan pemeriksaan-pemeriksaan lain yang dapat menunjang penegakan diagnosis suatu penyakit ataupun evaluasinya.

4.      Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan ini dilakukan guna untuk menilai usia tumbuh kembang, seperti usia tulang apabila dicurigai adanya gangguan pertumbuhan.

B.     PENILAIAN PERKEMBANGAN PADA ANAK
Untuk menilai perkembangan anak, hal yang dapat dilakukan pertama kali adalah melakukan wawancara tentang factor kemungkinan yang menyebabkan gangguan dalam perkembangan, tes skrining perkembangan anak dengan DDST, tes IQ dan tes psikologi, atau pemeriksaan lainnya.
Selain itu, juga dapat dilakukan tes seperti evaluasi dalam lingkungan anak, yaitu interaksi anak selama ini; evaluasi fungsi penglihatan, pendengaran, bicara, bahasa; serta melakukan pemeriksaan fisik lainnya, seperti pemeriksaan nurologis, metabolic dan lain-lain.
Pada penilaian tahap ini, beberapa tes yang dapat digunakan di antaranya tes intelegensi Stanford Binet, skala intelegensi Wechsler untuk anak prasekolah dan sekolah, skala perkembangan menurut Gesell (Gesell infant scale), skalai Bayle (Bayle infant scale of development), tes bentuk geometris, tes motor visual bender Gestalt, tes menggambar orang, tes perkembangan adaptasi social, DDST, serta diagnostic perkembangan fungsi munchen tahun pertama. Disini hanya akan dibahas mengenai tes perkembangan menurut DDST.
Pada saat ini terdapat beberapa perkembangan dalam penggunaan tes DDST, misalnya revisi atau perubahan dalam penggunaan tes yang dikenal dengan nama DDST II. Pada awalnya tes ini dikenal dengan nama DDST, kemudian terjadi revisi dengan nama DDST-R dan saat ini menggunakan istilah DDST II yang sudah mengalami penyempurnaan dalam pengukuran.
Penilaian DDST ini menilai perkembangan anak dalam 4 faktor, diantaranya terhadap personal social, motorik halus, bahsa dan motorik kasar dengan persyaratan tes sebagai berikut:
a.       Lembar formulir DDST II
b.      Alat bantu atau peraga seperti benang wol merah; manic-manik; kubus berwarna merah, kuning, hijau, dan biru; permainan bola kecil; serta bola tenis kertas dan pensil

Adapun cara pengukuran DDST dijabarkan sebagai berikut:
a.       Tentukan usia anak saat pemeriksaan
b.      Tarik garis pada lembar DDST II sesuai usia yang telah di tentukan
c.       Lakukan pengukuran pada anak tian komponen dengan batasan garis yang ada mulai motorik kasar, bahsa, motorik halus dan personal social
d.      Tentukan hasil penilaian apakah normal, meragukan atau abnormal sesuai gambar 3.5.
·         Dikatakan meragukan apabila terdapat 2 keterlambatan/ lebih pada 2 sektor atau 2 keterlambatan/ lebih pada 1 sektor ditambah 1 keterlambatan pada 1 sektor/ lebih
·         Dikatakan meragukan apabila terdapat 2 keterlambatan/lebih pada 1 sektor atau terdapat 1 keterlambatan pada 1 sektor/lebih
·         Dapat juga dengan menentukan ada tidaknyya keterlambatan pada masing-masing sector bila menilai setiap sector atau tidak menyimpulkan gangguan perkembangan keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Buku Saku Pratikum Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2011. Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.
Donna, dkk. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC.
Suherman. 2000. Buku Saku Perkembangan Anak. Jakarta : EGC.
Suriati. 2006. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : Sagung Seto.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar